Pages - Menu

Wednesday, 27 April 2016

KERUPUK MISKIN IRMA BULE

Adakah anda mengenal Irma Bule ? Tidak tahu? Baiklah saya ceritakan siapa dia. Irma Bule . adalah penyanyi dangdut asal Karawang yang tewas dipatuk ular Cobra, Minggu 3 April 2016 lalu. Warga Kampung Pawarengan, Desa Dawuan Tengah, Kecamatan Cikampek, Karawang yang berusia 29 tahun dengan nama asli Irmawati itu memang dikenal sebagai penyanyi dangdut dengan atraksi menari dengan ular.


Irma Bule
Irma Bule
Tapi nahas bagi ibu tiga anak balita itu. Saat berjoget ia tidak sengaja menginjak ekor ular cobra yang diajak manggung. Ular yang sangat berbisa itu mematuk pahanya. Dia sempat terjatuh dan terkulai.. Sang pawang ular minta Irma bule tidak melanjutkan pertunjukkannya. Namun istri seorang buruh pabrik itu menolak diobati dan tetap bernyanyi dan bergoyang selama 45 menit..


Setelah rehat barulah,Irma Bule tersungkur pingsan dan dilarikan ke rumah sakit namun nyawanya tidak tertolong.

Video detik-detik Irma digigit ular tersebar di You Tube dan sudah dilihat lebih dari 1,4 juta orang. Beritanya yang tragis tidak hanya mendapat liputan luas di dalam negeri melainkan juga media luar negeri. Tidak kurang 110 media asing memuat kejadian tragis tersebut, termasuk media ternama The Washington Post, Fox News,Majalah Time, Daily Mirror dan the Telegraph Inggris. Bahkan.media Rusia, Bosnia, India, Argentina sampai Nigeriapun memberitakan peristiwa yang tidak lazim itu.

Berdasarkan literatur, bisa ular cobra membunuh makhluk hidup yang digigitnya hanya dalam hitungan dibawah 5 menit. Namun Irma Bule bisa bertahan sampai 45 menit. Ini adalah rekor dunia !!

Ada spekulasi lamanya bisa ular itu bekerja karena Irma terus bergerak dan ada sugesti untuk terus tampil hingga berhasil menghambat perambatan racun ganas itu..Baru setelah aktivitas geraknya melambat, bisa ular itu langsung melesat melumpuhkan otot-otot jantung penyanyi malang itu. .

Pertanyaannya mengapa Irma Bule tidak berhenti ketika ular cobra mematuknya. Tidak seorangpun yang bisa menjawab pasti.

Namun berkaca pada latar belakang keluarganya yang miskin, daya juang Irmalah yang mungkin membuat dia bisa bertahan selama itu. Dia tetap bertahan berjoget dan bernyanyi karena mungkin khawatir bayarannya yang cuma 500 ribu sekali manggung itu hilang.

.Dia mendapat bayaran lebih dari pendangdut yang cuma nyanyi saja.. Dialah yang menciptakan tarian dangdut ular agar laris dipanggil. Itulah yang hanya dia bisa lakukan sejak SMP. Melakukan apa yang dia bisa untuk bertahan dan keluar dari kemiskinan yang terus mencengkeram.

Kemiskinan di Pantura yang jaraknya hanya selemparan batu dari Jakarta, memaksa penduduknya berjuang apa saja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, termasuk kaum perempuannya. Banyak yang menjadi PRT atau TKW. Banyak perempuan Pantura yang nikah muda kemudian menjadi janda hanya untuk mendapat KTP supaya bisa pergi menjadi TKW ke luar negeri.Yang tidak beruntung terperangkap di dunia hitam dan menjadi korban sindikat perdagangan manusia.

Sementara yang mengais rejeki di seni,seperti Irma Bule dan ratusan penyanyi dangdut amatiran lain harus rela berkeliling dari kampung ke kampung sampai dini hari hanya untuk beberapa ratus ribu saja. Mereka merelakan tubuhnya dijamah sambil mengundang dengan kata-kata sensual para lelaki berkantong tebal untuk naik kepanggung agar mau bermurah hati menyelipkan lembaran seribuan dan lima ribuan lecek di dada, lipatan celana atau di rok seksinya.

Mereka tetap bergoyang meski para lelaki mesum itu meraba- raba tubuh dan melecehkan mereka berulang-ulang selama berjam-jam. Yang penting bagi para pendangdut itu mendapatkan sedikit uang tambahan ketika acara bubar sekitar 3 dini hari dan baru bisa pulang menjelang subuh dengan wajah pucat kelelahan. Itulah yang biasa dialami Irma Bule jika saja dia tidak tewas malam itu.

Tapi tidak ada pejabatpun yang perduli akan nasib tragisnya.Tidak ada satu pejabat Karawangpun yang bersimpati termasuk Bupati Cecilia yang jomblo glamour itu untuk menjenguk keluarga menyampaikan rasa duka padahal kematian Irma Bule mendapat perhatian luas baik dari dalam maupun luar negeri.

Pemberitaan luar biasa ini juga tidak sampai ke telinga Ketua DPR Ade Komarudin. Padahal dia adalah wakil rakyat yang maju ke Senayan karena perolehan suara dari daerah pemilihan Karawang. Sangat mungkin Irma Bule memberikan suaranya untuk Ade Komarudin. Tapi Ketua DPR itu lebih suka menanggapi kegenitan para istri rekannya dengan tas puluhan juta yang tengah bercanda ria suka cita menikmati indahnya persaudaraan mereka di Negeri Sakura, saat Irma Bule lepas nyawanya.

Mereka mungkin mengangggap kematian Irma Bule tidak penting. Sama seperti pejabat pemerintahan disana yang tidak perduli dengan kemiskinan kawasan Pantura, Jawa Barat. Lihat saja alokasi anggaran untuk pengentasan kemiskinan disana. Subang misalnya, 30 persen penduduknya atau sekitar 130 ribu Kepala Keluarga hidup dibawah garis kemiskinan. Namun pemda setempat hanya menyediakan dana 60 juta untuk program kemiskinan setahun sementara lebih dari 60 persen APBD Subang diperuntukkan untuk membayar gaji dan operasional pemerintahan.

Lebih memprihatinkan lagi, mereka justru menjadikan Kemiskinan sebagai “objek wisata”. Setidaknya inilah kesan saya ketika mendapat tugas berkunjung ke wilayah Pantura. Dengan bangga pejabat daerah memperkenalkan.kerupuk miskin sebagai oleh-oleh andalan kawasan Pantura.



Kerupuk Miskin
Kerupuk Miskin
Seperti layaknya pemandu wisata, mereka bercerita bahwa kerupuk itu terbuat sagu diberi garam kasar dan digoreng dengan pasir karena ketika paceklik tidak ada yang mampu beli minyak goreng. Selama musim paceklik, itulah lauk nasi yang mereka makan. Supaya anak-anak mau makan, kerupuk itu diberi warna warni. Dia dan beberapa pejabat disana mengakhiri cerita itu dengan tertawa lepas ketika menyebut nama lain kerupuk miskin yakni kerupuk melarat.

Saya cuma tersenyum getir menyaksikan ulah mereka. Bagi saya, kerupuk miskin adalah reprentasi masalah kemiskinan akut yang seharusnya mereka ceritakan dengan deraian air mata.

Saat saya membaca pemberitaan Irma Bule, saya teringat betapa kerupuk miskin itu langsung lengket di langit-langit rongga mulut ketika dimakan dan baru turun ke lidah ketika nasi masuk dan dia bikin seret hingga harus banyak minum supaya tidak tersedak. Inilah menu penduduk Pantura selama berbulan-bulan waktu paceklik agar terhindar dari kelaparan. Dan Irma Bule pasti tidak ingin anak-anaknya makan kerupuk miskin.

Karena dorongan ini, mungkin, Kartini dari Pantura itu, tetap memaksa bekerja, bergoyang sambil bernyanyi sekenanya meski terluka parah terkena bisa dan meregang nyawa.

Tapi siapa perduli?

Saturday, 23 April 2016

BERKAH BUNTUT SINGKONG GORENG

Kisah Si Tukang Gorengan

Alkisah ada seorang penjual gorengan yang selalu menyisakan buntut singkong goreng yang tak terjual. Dia selalu memberikan sisa gorengan tersebut pada seorang bocah yang sering main di tempatnya mangkal.

Wednesday, 20 April 2016

INDONESIA “ KARTU AS” KEMAKMURAN TIMOR LESTE

Seperti diberitakan, ribuan rakyat Timor Leste mengepung Kedutaan Besar Australia di Dilli memprotes penolakan Canberra merundingkan batas laut kedua negara.

Semua elemen rakyat Timor Lorosae turun ke jalan selama dua hari. Tokoh negara itu Xanana Gusmao menyerukan rakyat Timor Leste harus bersatu teguh mendesak Australia melakukan perundingan soal batas laut. Unjuk rasa tanggal 22 hingga 23 Maret itu adalah yang terbesar sejak Indonesia dipaksa keluar pada 1999 melalui jajak pendapat yang semua orang tahu sudah didesain untuk memerdekakan Timor Leste dari “kekuasaan jahat Indonesia.”


Unjuk rasa itu sungguh merupakan ironi karena Australia dijunjung dan dipuja setinggi langit oleh pemimpin dan rakyat Timor Leste karena menjadi pahlawan “membebaskan penjajah bernama Indonesia.”
Kini justru Australia dihujat sebagai penjahat terbesar yang merampok harta mereka dan membuat rakyat Timor Leste miskin sepanjang hayatnya karena Australia mengangkangi sumber penghasilan negara terbesarnya berupa . gas bumi dan minyak. Karena penolakan Canberra, Timor Leste kehilangan pendapatan 5 Milyar dollar Amerika .yang seharusnya cukup untuk membiayai kehidupan 1,2 juta jiwa yang menempati luas wilayah 15 ribu km2.

Negara itu menyatakan mereka bisa sejahtera dan tidak jatuh miskin seperti sekarang ini jika Australia mematuhi norma-norma Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS). Jika merujuk pada UNCLOS, Timor Leste akan menguasai Laut Timor lengkap dengan cadangan minyak dan gasnya..

Pertanyaannya mengapa Australia tidak mau merundingkan batas maritimnya dengan Timor Leste? Selain tidak mau kehilangan pendapatan jutaan dollar dari pipa gas di ladang Sunrise ke Darwin, Australia tidak mau repot karena jika batas maritim itu disepakati, maka Indonesia secara otomatis harus diajak ikut serta.

Sebagaimana ketentuan UNCLOS , Indonesia bisa mengklaim landas kontinennya hingga jarak 350 mil. Jadi sebenarnya, meski Timor Leste lepas dari Indonesia, sesuai UNCLOS, Indonesia tetap punya bagian atas migas di Laut Timor, karena pantai Timor Barat di NTT berbatasan langsung dengan Celah Timor.

Pengakhiran Kerjasama Celah Timor pada tanggal 1 Juni 2000 melalui pertukaran Nota Diplomatik Indonesia dan Australia juga tidak bisa dijadikan dasar Indonesia tidak punya hak atas Celah Timor karena perjanjian itu bersifat sementara sambil menunggu Indonesia dan Australia menuntaskan perundingan batas maritimnya. Sebagaimana diketahui, perjanjian itu ditandatangani diatas pesawat militer Australia pada tanggal 11 Desember 1989 dan setelah itu Australia mengakui kedaulatan Indonesia atas Timor Timur.

Namun setelah Timor Leste merdeka, Indonesia sendiri enggan ikut menuntut haknya di Laut Timor. Jakarta nampaknya lebih suka menunggu perundingan antara Australia Timor Leste tentang batas maritimnya. Apalagi ditahun 2002, Australia telah menarik diri dari aneka proses terkait sengketa perbatasan berdasarkan UNCLOS dan International Court of Justice. Ini menunjukkan bahwa Australia tahu benar bahwa argumennya soal klaim Celah Timor dengan

mudah dipatahkan Indonesia yang memakai UNCLOS sebagai dasar klaimnya. Tapi Indonesia nampaknya tidak mau rumit-rumit dalam soal ini, apalagi Jakarta nampaknya trauma dengan isu HAM yang pasti diteriakkan berbagai kalangan di Australia jika bersuara soal haknya di Celah Timor.

Itulah juga mungkin sebabnya Indonesia tidak pernah menanggapi permintaan resmi Xanana Gusmao kepada presiden Megawati yang berkunjung ke Dilli tahun 2003 agar kedua negara bersama-sama mengembangkan Celah Timor. Alhasil Timor Leste harus berjuang sendiri melawan Australia yang kini dicap sebagai penjajah negara itu.

Australia yang menjajah. Persis seperti dugaan saya setelah berhasil keluar dari Dilli atas budi baik Panglima TNI Jenderal Wiranto dan Menlu Ali Alatas yang sehari setelah jajak pendapat terbang ke Dilli. Ketika itu Mabes TNI menyiapkan pesawat khusus Hercules C-130 untuk mengevakuasi pejabat penting Indonesia termasuk wartawan keluar dari Dilli.

Setelah itu, .Timor Leste bak Vietnam kedua dimana iring-iringan pengungsi pro Indonesia yang ketakutan dibunuh berusaha keluar lewat Atambua. Saling bunuh berlangsung. TNI meninggalkan Timor Timur dengan berlinangan air mata dan hati yang pedih karena sepanjang jalan mereka dicaci, diludahi dan dilempari batu.

Sekarang Timor Leste merasakan pahitnya penghianatan Australia seraya berharap dengan amat sangat Indonesia mau ikut campur dalam perundingan Celah Timor. Sebab tanpa Indonesia, bisa jadi Timor Leste akan miskin selamanya.

*) Tribute to Martinus, sahabat saya di Timor Leste yang terbunuh seusai jajak pendapat. May You Rest in Peace, kawan


Bohong!! Singapura itu lebih baik dari Indonesia!

Coba tanya sopir taxi di Singapura, bagaimana rasanya jadi warga negara Singapura? Seorang sopir taxi yg saya tanya kemarin bilang: 

"Sekarang makin sulit hidup di Singapura. Pemerintah terus membebani kami dengan macam-macam pajak. Kami memang bisa punya apartemen sendiri yg kami cicil dari pemerintah. Tapi Pemerintah pintar! Mereka menyuruh kami nyicil sampai saya umur 70 tahun. Kalo saya mati, apartemen itu hanya bisa saya wariskan kepada anak saya beberapa tahun saja karena setelah 90 tahun, apartemen itu kembali menjadi milik negara dan anak saya harus kembali nyicil sampai tua seperti saya.

Orang Singapura tidak bisa benar2 memiliki seperti orang Indonesia memiliki rumah yang diwariskan turun-temurun!

Punya mobil, jangan mimpi! Untuk mobil sekelas mobil Jepang seharga 300 juta, warga negara Singapura harus membeli selembar surat senilai kira-kira 700 juta, baru bisa membeli mobil seharga 300 juta! Jadi mobil 300 juta harus dibayar 1 milyar! "Bandingkan dengan di Indonesia, kata sopir taxi itu! Orang Indonesia bisa langsung membeli mobil berapapun harga yang dia mau! Bahkan orang Indonesia bisa memelihara mobil tersebut sampai melebihi umur pemiliknya kalo mau! Kami di Singapura setelah membeli mobil seharga 300 juta dengan uang 1 milyar nyicil 10 tahun. Setelah 10 tahun kami harus kembali nyicil mobil baru dan kembali membeli surat hak punya mobil yang harganya 3 kali lipat harga mobil!"

"Orang Singapura hidup mengabdi dan bekerja untuk pemerintah, bukan untuk kesejahteraan kami! Orang Indonesia hidup dan bekerja untuk diri mereka sendiri. Pemerintah Indonesia tidak sepintar pemerintah di negara kami, tapi Pemerintah Indonesia tidak sekejam Pemerintah negara kami! Singapura enak buat turis, bukan buat kami warga negaranya! Jutaan orang Indonesia datang ke negeri untuk belanja! Sementara hanya sedikit orang Singapura yang pergi ke Indonesia, itu pun untuk bekerja bukan belanja atau jalan! Indonesia better lahhh...." Kata sopir taxi itu menutup pembicaraan!

Thursday, 14 April 2016

Tangan Ajaib Seorang Guru


Tahun 1983 hanafi harusnya jadi anak putus sekolah. Ayah ibunya sudah tak mampu membiayainya untuk Lanjut SMP. 

Tuesday, 12 April 2016

Perhatian Facebook Terhadap Bahasa Jawa, Beberapa Ulasan dan Cara Penggunaannya.

Tampilan Facebook dengan bahasa Inggris itu sudah biasa dengan bahasa Indonesia juga sudah wajar, namun bagaimana kalau bahasa daerah khususnya Bahasa Jawa tentu sangat menarik dan unik.



Fitur Bahasa Jawa ini mungkin bagi sebagian orang tidak begitu punya arti, namun dibailk adanya fitur bahasa daerah jawa ini tentu mempunyai alasan tersendiri.
Facebook ternyata punya perhatian khusus terhadap Indonesia dan mereka juga ingin menjelaskan istilah-istilah facebook tentang apa sih? sebenarnya istilah difacebook jika diungkapkan dengan bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan bahasa jawa sehingga istilah tersebut bisa meluas pada kaum yang tidak begitu mengenal tentang istilah-istilah dunia internet.
Disamping itu juga fitur bahasa jawa ini diharapkan mampu membidik pasarnya orang awam sehingga tidak hanya bangsa bangsa lain saja yang bisa menikmati fitur facebook ini namun semua lapisan masyarakat agar tidak ragu lagi mendaftar facebook dan menikmati fasilitas facebook secara maksimal karena mereka bisa dengan cepat memahami maksud menu-menu / nafigasi difacebook.
Namun beda lagi jika alasannya jika fitur bahasa jawa ini digunakan oleh yang sudah melek dengan internet tentu alasan mereka adalah hanya sekedar penasaran saja.

Saya sendiri mencoba bahasa jawa ini karena penasaran bagaimana sih tampilan menu-menunya jika diganti dengan bahasa jawa.
Setelah diganti mengapa terkesan lucu ya..he..he..



Difacebook juga ada fitur upside down atau text facebook yang serba terbalik lihat cara tutorialnya disini.
Sedangkan cara menggantinya sobat bisa lihat tutorial berikut ini.


Bagaimana Cara Merubah Tampilan Facebook menjadi Bahasa Jawa

  1. Masuk ke facebook lalu ke pengaturan > Bahasa > Basa Jawa > Simpan
  2. Tinggal pilih bahasa jawa dan klik simpan  
     

















      3. Tampilan Facebook basa Jawa yang tidak terbiasa akan terlihat aneh. hehehe...

          
Terima Kasih, selamat dengan tampilan facebook Basa Jawa nya semoga bermanfaat.


Saturday, 9 April 2016

Yang Hilang Dari Negeriku

Foto dibawah ini adalah pemandangan yang lazim disaksikan tempo dulu. kala anak-anak murid memasuki sekolah tempat menimba ilmu.
 


Mereka melewati pintu depan yang sudah ditunggu oleh tuan guru. Semua menunduk sebagai bentuk hormat dan "ngajeni" kepada yang lebih tua.

berjalan membungkuk bukan hanya tatacara penghormatan. Tapi juga sebuah simbol mau merendahkan diri pada manusia lain yang dinilai lebih berat "isinya". Bisa ilmunya, bisa usianya, ataupun karena maqom (kedudukannya).

Namun sekarang itu nampak sudah mulai hilang dan mungkin hanya tinggal cerita yang bisa dikenang. Sekarang, pendekatan guru sebagai teman malah kebablasan. Tak ada lagi sikap sungkan. Tak ada lagi sikap ewuh pakewuh kepada sang guru. Karena dianggap teman dan fasilitator pendidikan.

Sekarang yang terjadi adalah ditempelang lapor Polisi, lapor komnas HAM dan kalau murid gagal guru yang disalahkan.

Saya masih ingat, bagaimana dulu, saya dan kawan-kawan sebaya berlomba menjemput guru kami saat memasuki pagar. Ada yang berebut membawakan sepedanya dan membawakan tasnya. Yang tak kebagian. Tetap bisa berebut untuk urusan salim mencium tangan.

Diperintah guru mengambil kapur adalah sebuah kebanggaan prestisius. Mengunjunginya saat sakit adalah aturan tak tertulis yang membuat para murid bergegas dan berinisiatif patungan lalu membuat rencana untuk mewujudkannya.

Gambar diatas berbicara lebih dari sekedar tatakrama. Tapi juga sebuah kesiapan menerima. Dan ikrar tanpa kata.
"Bahwa kami ingin diajari menjadi manusia".

Semoga kita kembali menjadi bangsa yang tahu tatakrama pada yang tua. dan mengerti bahwa menjaga adab dan sopan santun bukanlah bagian dari keprimitifan.





Source:
Klaten, 6 April 2016
Andre Raditya