Mereka melewati pintu depan yang sudah ditunggu oleh tuan guru. Semua menunduk sebagai bentuk hormat dan "ngajeni" kepada yang lebih tua.
berjalan membungkuk bukan hanya tatacara penghormatan. Tapi juga sebuah simbol mau merendahkan diri pada manusia lain yang dinilai lebih berat "isinya". Bisa ilmunya, bisa usianya, ataupun karena maqom (kedudukannya).
Namun sekarang itu nampak sudah mulai hilang dan mungkin hanya tinggal cerita yang bisa dikenang. Sekarang, pendekatan guru sebagai teman malah kebablasan. Tak ada lagi sikap sungkan. Tak ada lagi sikap ewuh pakewuh kepada sang guru. Karena dianggap teman dan fasilitator pendidikan.
Sekarang yang terjadi adalah ditempelang lapor Polisi, lapor komnas HAM dan kalau murid gagal guru yang disalahkan.
Saya masih ingat, bagaimana dulu, saya dan kawan-kawan sebaya berlomba menjemput guru kami saat memasuki pagar. Ada yang berebut membawakan sepedanya dan membawakan tasnya. Yang tak kebagian. Tetap bisa berebut untuk urusan salim mencium tangan.
Diperintah guru mengambil kapur adalah sebuah kebanggaan prestisius. Mengunjunginya saat sakit adalah aturan tak tertulis yang membuat para murid bergegas dan berinisiatif patungan lalu membuat rencana untuk mewujudkannya.
Gambar diatas berbicara lebih dari sekedar tatakrama. Tapi juga sebuah kesiapan menerima. Dan ikrar tanpa kata.
"Bahwa kami ingin diajari menjadi manusia".
Semoga kita kembali menjadi bangsa yang tahu tatakrama pada yang tua. dan mengerti bahwa menjaga adab dan sopan santun bukanlah bagian dari keprimitifan.
Source:
Klaten, 6 April 2016
Andre Raditya

1 comment:
Playtech is the king of the gaming sector - DRMCD
They are the kings of 의정부 출장안마 the world 아산 출장마사지 gaming space. In our latest interview, Chief 포천 출장마사지 Executive Officer John 경주 출장샵 Chouteau discusses 남양주 출장안마 the rise and the future of gaming
Post a Comment